BEBAN GURU MASA KINI

By Iwan Hermawan

Pertama, tugas berat yang diembannya tidak diimbangi dengan tingkat kesejahteraan yang memadai. Gaji guru yang kecil pun masih diperas dengan potongan macam-macam dengan dalih untuk keperluan dana sosial, asuransi, urusan korps, atau pungutan lainnya. Anehnya, guru pun tak bisa berkutik. Sikap penuh nilai pengabdian, loyalitas, dan tanpa pamrih agaknya telah membuat guru tak mau bersinggungan dengan konflik. Mereka lebih suka memilih diam daripada menyuarakan kenyataan pahit yang dirasakannya.

Kedua, guru sering dijadikan “kendaraan” untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Guru tidak punya banyak pilihan. Kebebasan dan kemerdekaan untuk mengeluarkan pendapat telah dibatasi oleh simbol-simbol tertentu. Guru harus menjadi sosok yang nrimo, pasrah, dan tidak banyak menuntut.

Ketiga, harapan masyarat yang terlalu perfeksionis dan berlebihan. Dalam kondisi yang tidak menentu, masyarakat tetap menuntut agar guru tetap memiliki idealisme sebagai figur pengajar dan pendidik yang bersih dari cacat hukum dan moral. Gerak-gerik guru selalu menjadi sorotan. Melakukan penyimpangan moral sedikit saja, masyarakat beramai-ramai menghujatnya. Ironisnya, harapan yang berlebihan itu tidak dibarengi dengan apresiasi masyarakat yang proporsional. Profesi guru di mata masyarakat masa kini telah kehilangan pamor, tidak lagi dianggap sebagai pekerjaan yang luhur dan mulia.

Keempat, para siswa atau pelajar masa kini semakin masa bodoh terhadap persoalan-persoalan moral, terjebak ke dalam sikap instan. Akibatnya, guru merasa kehilangan cara yang terbaik dan punya nilai edukatif dalam menangani perilaku pelajar. Dalam ulangan pun pelajar masa kini tak mau repot-repot mempersiapkan diri dengan baik. Cukup membuat contekan atau nebeng pada temannya yang berotak cemerlang.

Paradigma Masyarakat terhadap Guru (Dahulu dan Sekarang)

By Iwan Hermawan

Usia pendidikan sama tuanya dengan usia kebudayaan manusia. Pendidikan telah mulai dilaksanakan semenjak manusia hadir di muka bumi. Pada mulanya, tujuan pendidikan hanyalah sekadar mempersiapkan generasi muda untuk bisa survive di tengah masyarakat luas. Karena itu, bentuknya adalah berupa mewariskan wawasan, pengetahuan, dan ketrampilan yang diperlukan untuk survival kepada generasi berikutnya. Pada penghujung abad ke 21 M, pemerintah mengeluarkan undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional, sebagai pengganti undang-undang nomor 2 tahun 1989.

Salah satu isi yang terpenting dalam undang-undang itu tersebut adalah pelibatan masyarakat dalam pengembangan sektor pendidikan, sebagaimana ditegaskan pada pasal 9 bahwa masyarakat berhak untuk berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan. Pasal ini merupakan kelanjutan dari pasal 4 ayat 1 bahwa pendidikan di Indonesia diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan.

Saat ini banyak sekali kasus guru yang diprotes bahkan dituntut, gara-gara dianggap tidak profesional dalam mengerjakan tugasnya. Seringkali orangtua mencemooh guru didepan anak ketika dianggap tidak sesuai dengan harapannya. Yang lebih parah lagi, mereka mendoktrin anaknya untuk melawan guru jika ada perlakuan atau tindakan yang dianggap melanggar haknya. Saat ini, banyak sekali sinetron yang menampilkan sosok guru sebagai orang bego, kuper dan miskin dan menjadi objek ejekan atau korban bullying dari murid-muridnya.

Ironisnya berita itu sering melecehkan posisi guru, baik yang bersifat kepentingan umum maupun sifat-sifat yang sangat pribadi. Pihak guru sendiri nyaris tidak bisa membela diri. Masyarakat atau orang tua murid selalu mencemooh dan menuding guru tidak kompeten, tidak berkualitas dan sebagainya. Bila putra/putrinya tiak bisa menyelesaikan persoalan yng dihadapi atau memiliki kemampuan yang tidak sesuai. Dari kalangan bisnis / industrialis memprotes para guru karena kualitas para lulusan dianggap kurang memuaskan bagi kepentingan perusahaan. Dimana murid-murid khususnya di sekolah menengah di kota-kota umumnya cenderung menghormati gurunya karena hanya ingin nilai yang baik atau naik kelas atau lulus dengan peringkat tanpa kerja keras. Tentunya tuduhan dari kalangan tersebut akan merongrong wibawa guru, bahkan cepat/lambat, pelan tapi pasti menurunkan martabat guru. Sikap perilaku masyarakat tersebut memang beralasan, karena sebagian kecil dari guru yang melanggar atau menyimpang dari kode etik guru.

Anehnya sekecil apapun kesalahannya tetap mengundang reaksi yang begitu hebat di masyarakat. Menunjukkan bahwa guru memang seyogyanya menjadi panutan bagi masyarakat sekitarnya. Lebih dari sebagai panutan, bahwa guru sampai saat ini masih dianggap eksis, sebab sampai kapanpun posisi/peran guru tidak bisa diganti dengan mesin canggih. Karena tugas guru menyangkut pembinaan sifat mental manusia yang menyangkut aspek-aspek yang bersifat manusiawi unik dalam arti berbeda dengan yang lain. Hanya saja sampai dimana pengakuan masyarakat terhadap profesi guru, profesi hakim dan dokter dianggap lebih tinggi dibandingkan dengan profesi guru. Seandainya yang dijadikan ukuran rendahnya pengakuan profesioanal tersebut adalah keahlian dan tingkat pendidikan, guru pun ada setingkat/sederajat dengan profesi lain, bahkan ada yang lebih. Kita akui bahwa profesi guru mudah tercemar dengan orang yang memaksakan diri menjadi guru walaupun sebenarnya yang bersangkutan tidak dipersiapkan. Masyarakat berpandangan bahwa siapa saja dapat menjadi guru asalkan berpengetahuan.

Lain lagi dengan masyarakat di pedesaan, guru adalah sosok sentral bagi masyarakat. Jika ada orangtua bingung dengan anaknya, ia akan pergi ke rumah seorang guru. Kalau partisipasi warga perlu digerakkan untuk suatu proyek pembangunan di desa, gurulah yang pandai-pandai membantunya. Warga masyarakat banyak membutuhkan pertolongan guru untuk penyuluhan, pendampingan dan pengembangan lingkungannya. Tak heran bahwa di masa lalu guru masuk dalam kelas priayi. Guru dianggap seorang cendikiawan bagi lingkungan desanya. Bukan hanya di desa, kita sering mendengar orang-orang besar, orang pinter, pengusaha atau pejabat yang mengagungkan sosok guru. Banyak dari mereka mengakui menjadi “orang” karena guru. Dalam awal pembangunan negara kita pun, keberhasilan pada pengembangan kualitas sumber daya manusia, guru memainkan peran penting. Sering tidak terpikirkan bahwa untuk menghasilkan orang yang berkualitas, gurulah yang menjadi awal perjalanan sejarah orang tersebut.

Entah apa yang terjadi, yang menyebabkan begitu rendah dan negatifnya paradigma masyarakat modern terhadap profesi guru?

Catatan:

Guru yang dianggap memilki kompetensi berharga di era yang sangat kompetitif ini bukan guru yang hanya menguasai satu spesialisasi disiplin ilmu, melainkan generalis yang mampu menangani masalah dengan bantuan beberapa disiplin ilmu yang harus dikuasainya. Dengan kata lain, di zaman yang mengutamakan kualitas ini, keunggulan hanya bisa diraih dan dinikmati oleh guru yang bertipe pemenang, bukan oleh guru pengeluh dan pemalas. Siapa lagi yang harus memperbaiki citra dan profesi yang terus terpuruk kalau bukan dari guru itu sendiri.

Qalbun Salim: Oleh Masykur H Mansyur.

Qalbun Saliim : Masykur H Mansyur

Kata “Saliim” memiliki akar kata yang sama dengan kata “Islam”. Kata Saliim berasal dari kata salima artinya selamat.

Sedangkan kata “Qalb” diartikan dengan hati, hal ini disandarkan pada ayat surat al-Hujurat 49 : 14

۞قَالَتِ ٱلۡأَعۡرَابُ ءَامَنَّاۖ قُل لَّمۡ تُؤۡمِنُواْ وَلَٰكِن قُولُوٓاْ أَسۡلَمۡنَا وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَٰنُ فِي قُلُوبِكُمۡۖ

14. Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah ´kami telah tunduk´, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu;

Dan juga Nabi Muhammad bersabda bahwa “taqwa itu ada disini” (sambil beliau menunjuk kearah dadanya).

Jadi qalb saliim yang dimaksudkan disini adalah hati yang selamat dari penyakit atau kerusakan apapun bentuknya. Atau dengan kata lain hati yang tidak mengenal selain Islam.

Istilah “Qalb Salim” dalam al-Qur’an ditemukan dalam dua tempat. Keduanya terkait dengan peristiwa Nabi Ibrahim AS. Beliau merasa prihatin yang luar biasa melihat penyimpangan dan kesesatan yang dilakukan kaumnya, termasuk ayahnya sendiri yang bernama Azar. Besarnya perhatian kepada orang tua adalah sesuatu yang alami dan merupakan fitrah bagi manusia, karena setiap manusia dalam fitrahnya memiliki rasa cinta dan perhatian yang mendalam pada keluarga dan kerabat. Semestinya setiap anak tidak akan pernah rela melihat kezaliman, kesesatan dan penyimpangan yang dilakukan oleh orang tuanya, terlebih Nabi Allah Ibrahim AS.

Nabi Ibrahim berdakwah dengan sekuat tenaga menyeru kaumnya termasuk orang tuanya sendiri untuk beragama tauhid, tapi yang terjadi malah sebaliknya, mereka justru menantangnya dengan mengatakan bahwa sejak dulu dari nenek moyang kami sudah yakin dengan persembahan kami yaitu menyembah patung.

Kenyataan inilah yang membuat Nabi Ibrahim bermunajat berdoa kepada Tuhannya sebagaimana dalam surat al-Syu’ara’ 96: 83 – 89.

رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ٨٣ وَٱجۡعَل لِّي لِسَانَ صِدۡقٖ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ٨٤ وَٱجۡعَلۡنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ ٨٥ وَٱغۡفِرۡ لِأَبِيٓ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلضَّآلِّينَ ٨٦ وَلَا تُخۡزِنِي يَوۡمَ يُبۡعَثُونَ ٨٧ يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ٨٩

(Ibrahim berdoa): "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh. Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan. Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat. Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna.Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.

Dan ternyata do’a Nabi Ibrahim untuk bapaknya ditolak oleh Allah sebab bapaknya merupakan musuh Allah. Perhatikan surat al- Taubah

وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ ١١٤

114. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.

Dalam surah al-Shaaffaat 37 : 83-84

۞وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِۦ لَإِبۡرَٰهِيمَ ٨٣ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ٨٤

83. Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh)

84. (lngatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci

Hati yang selamat seperti yang kita fahami berdasarkan ayat-ayat tersebut adalah hati yang bersih dari kemusyrikan dan kekafiran. Hati yang penuh dengan kemusyrikan dan kekafiran betapapun pemiliknya berbuat baik dan humanis tetap saja tidak akan pernah menjadi hati yang selamat.

Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihaayah menguraikan, Abu Talib mengasuh Rasul SAW dan melindungi beliau selama 48 tahun. Namun bila tidak beriman, ia tidak mendapatkan keselamatan dari Tuhan. Bahkan ketika Abubakar ra. Membawa ayahnya, Abu Quhafah, yang rambutnya sudah memutih kepada Rasul SAW, sesudah (fath Makkah) lalu ia memeluk Islam dan Mengucapkan dua kalimat syahadat, Abubakar menangis. Abubakar menjawab bahwa ia akan sangat senang seandainya Abu Talib masuk Islam karena ia mengetahui betapa Rasul sangat menginginkan hal tersebut. Rasul tidak lupa akan sikap dan perlindungan Abu Talib kepada beliau, Pergilah, wahai keponakanku, sampaikanlah apa yang harus kausampaikan. Demi Tuhan, aku tidak akan menyerahkanmu pada apapun dan siapun selamanya.

Wallahu a’lam.

Memilih Pemimpin

Oleh: Masykur H Mansyur.

Al-Qur’an mengatakan bahwa syarat menjadi pemimpin yaitu seorang calon pemimpin memiliki kapasitas ilmu yang memadai untuk mengelola kemaslahatan publik. Sebentar lagi bangsa Indonesia akan memilih pemimpin daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Insya Allah masyarakat Indonesia akan memilih pemimpin yaitu Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati serta Wali Kota dan Wakil Wali Kota secara serentak pada hari Rabu tanggal 9 Desember tahun 2015 ini.

Dalam menghadapi pemilihan pemimpin tersebut ada baiknya memperhatikan firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah 2 : [247]

وَقَالَ لَهُمۡ نَبِيُّهُمۡ إِنَّ ٱللَّهَ قَدۡ بَعَثَ لَكُمۡ طَالُوتَ مَلِكٗاۚ قَالُوٓاْ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ ٱلۡمُلۡكُ عَلَيۡنَا وَنَحۡنُ أَحَقُّ بِٱلۡمُلۡكِ مِنۡهُ وَلَمۡ يُؤۡتَ سَعَةٗ مِّنَ ٱلۡمَالِۚ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰهُ عَلَيۡكُمۡ وَزَادَهُۥ بَسۡطَةٗ فِي ٱلۡعِلۡمِ وَٱلۡجِسۡمِۖ وَٱللَّهُ يُؤۡتِي مُلۡكَهُۥ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ ٢٤٧

247. Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu". Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa". Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui

Dari ayat ini secara tersirat mengecam kriteria kekayan dan modal finansial untuk menjadikan seorang sebagai pemimpin. Prinsip ini kontras dengan realitas masyarakat yang terjadi, yaitu orang berduit, bukan orang berilmu, yang memiliki kans dipilih oleh rakyat dalam pilpres maupun pilkada dan legislatif.

Berbagai persoalan yang dihadapi oleh pimpin saat ini maupun masa yang akan datang. Menurut hemat kami ada beberapa persoalan moral yang perlu diselesaikan secara simultan, diantaranya.

1. Penegakkan Hukum

Nabi SAW menganjurkan untuk berijtihad, terutama kepada orang yang memutuskan hukum. Karena perkara-perkara yang akan diputuskan itu beribu macam, berbagai ragam, ada yang serupa ada yang berbeda. Pada hal nash (dalil) untuk memutuskan perkara itu dari al-Qur’an dan al-Sunnah, sifatnya terbatas. Tidak sebanyak perkara-perkara yang timbul, sebab itu Nabi bersabda

إذا إجْتَهَدَ الحا كِمُ فأَ صَا بَ فَلَهُ أَجْرَانِ وإذا إجْتَهَدَ فأَخْطَأَ فَلَهُ أجْرٌ

Apabila berijtihad seorang hakim, lalu betul ijtihadnya itu, dia dapat dua pahala. Dan apabila dia berijtihad, tetapi salah, dia dapat satu pahala (HR Bukhari dari Amr bin Ash)

Hamka mengutip Imam Hasan al-Bisri mengatakan tentang tiga perkara yang diletakkan Allah ke atas pundak hakim-hakim.

a. Jangan dijual kebenaran dengan harga yang sedikit

b. Jangan dituruti kehendak nafsu, dan

c. Didalam menegakkan hukum tidak seorangpun yang ditakuti selain Allah.(TAFSIR, AL-AZHAR JILID 6 HLM. 61)

1. Masalaha Korupsi dan IPM

Sebuah jajak pendapat koran nasional terungkap bahwa budaya korupsi, bukan hanya sekedar praktik korupsinya, ternyata menjadi keprihatinan banyak warga bangsa ini. Sebanyak 38,6% responden menyatakan bahwa budaya korupsi adalah ancaman terbesar bangsa ini. Selebihnya mengatakan krisis ekonomi 15,1%, angka pengangguran yang tinggi 10,3% terorisme 9,7% dan konflik antar masa 9,3%

Sedihnya lagi Indonesia berada satu kelas dibawah Negara-negara terbelakang seperti Benin, Bolivia, Gabon, Kosovo dan Salomon Islands yang sama-sama punya skor 2,8 Indeks Presepsi Korupsi (IPK) dunia, dan berada dalam urutan 110 seperti dirilis TII pada 26 Oktober 2010 lalu.

Hal ini pula yang berpotensi besar menurunkan Indeks Pemambangunan Manusia (IPM) Indonesia tahun 2010 berada diurutan 108, jauh dibawah Thailand, Malaysia, apalagi Singapura. Dengan tiga indikator penilaian di bidang kesehatan, pendidikan dan tingkat kehidupan yang layak diukur dari pertumbuhan domestik produk perkapita, dugaan sementara kalangan agaknya benar. Ada korelasi positif antara kualitas IPK dan IPM Indonesia yang sama buruknya, terutama jika dilihat praktik korupsi dana pembangunan dari pajak Negara yang masih terus terjadi sehingga tingkat kehidupan yang layak bagi anak bangsa belum terealisasi karena salah sasaran.(baca: Fahmi Salim, Tafsir Sesat 58 Essai Kritis Wacana Islam di Indonesia, Depok: GIP, 2013, hlm, 120.

Informasi (Republika, kamis 29 OKTOBER 2015), menurut wakil ketua KPK Adnan Pandu Praja dalam periode 2001-2009 (kurun 8 tahun) KPK menindak 542 koruptor dengan nilai kerugian Negara mencapai Rp. 73,1 triliun. Pelakunya sebagian besar oknum anggota DPR, DPRD, Kepala lembaga dan kementerian, gubernur, bupati/wali kota dan wakilnya. Serta pejabat eselon I, II dan III. Belum lagi oknum aparat penegak hu kum. Seolah-olah tidak ada lagi entitas yang benar-benar steril dari tindakan korupsi.

2. Masalah Preferensi Alkohol RI

Harian Nasional Republika “Gubernur Tolak Kewenangan Miras”,Selasa 15 September 2015,halaman 1 (satu) menulis,

Kategori usia Peminum yaitu, 3,8% umur 15-24 tahun. 3,3% umur 25-34 tahun.1,7% umur 35-44 tahun 1,5% umur 44-54 tahun. Adapun jenis kelaminnya adalah; 0,2 % laki-laki dan 3,8%% wanita. Dari segi pendidikan sebanyak 3,6 % tamat SMA, 3,3 % tamat SMP, 1,8 % tamat SD dan 1,7 % tamat SMA+. Dilihat dari tempat tinggal sebanyak 2,4 % Perkotaan. 1,6 % Perdesaan. Adapun Jenis minuman yang diminum adalah 38,97% bir, di perkotaan.28,7 %, Wishkey/vodka di perkotaan.28,7% minuman tradisional perdesaan.

Al-Qur’an menyebut alkohol ini adalah khamar atau jenis yang memabukkan.. Khamar menurut Usman bin Affan adalah al-Khamru ummul khaba’is. (khamar itu induk dari segala perbuatan keji).

Al-Qur’an menjelaskan sebagaimana dalam surah al-Baqarah 2 : [219].

۞يَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡخَمۡرِ وَٱلۡمَيۡسِرِۖ قُلۡ فِيهِمَآ إِثۡمٞ كَبِيرٞ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ

وَإِثۡمُهُمَآ أَكۡبَرُ مِن نَّفۡعِهِمَاۗ

219. Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya

Dalam suatu riwayat dari Utsman bin Affan. Disebutkan seorang pemuda dipaksa majikan perempuannya, melakukan salah satu diantara tiga maksiat. Jika tidak dia akan diteriaki dan dihakimi massa. Pilihannya berzina, membunuh anak kecil, atau meminum khamar. Karena terpaksa ia meminum khamar. Ia berpikir khamar adalah dosa paling ringan diantara pilihan lainnya, Lagi pula khamar hanya akan memudaratkan dirinya ketimbang membunuh atau berzina. Namun malang, setelah ia mabuk, iapun berzina kemudian membunuh anak kecil tadi. Disamping itu orang yang minum khamar lalu mabuk tidak diterima shalatnya 40 hari. Bila dia mati masuk neraka. Bila dia tobat, Allah akan mengampuninya. (H.R. Ibnu Majjah).

Menurut Republika, 28 September 2015, Penelitian di Amerika Serikat,70 % dari kasus pembunuhan terjadi karena pelaku dalam keadaan mabuk. Tokoh besar PBNU, KH Malik Madani mengatakan Miras dan Narkoba pembunuh nomor satu bagi manusia.

3. Free Sex dan Narkoba.

Al-Qur’an surah al-Isra:32

وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا ٣٢

32. Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk

Rasul bersabda: apabila perzinaan dan riba telah melanda suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah menghalalkan turunnya adzab Allah atas mereka sendiri (HR Tabrani dan al-Hakim).

Dalam pandangan Islam, perbuatan zina dapat dikatakan sebagai perbuatan kriminal, dan kejahatan yang sangat serius, sehingga segala hal yang menjurus kearah zina, yang mendekati zina, wajib ditutup.

Karena di mata Islam zina dipandang sebagai kejahatan serius, maka segala hal yang menjurus kepada zina, sudah semestinya tidak diizinkan. Termasuk kebebasan berekspresi yang mempromosikan perbuatan zina. Islam memandang bahwa zina adalah sumber kehancuran masyarakat, sebagaimana dijelaskan oleh al_Qur’an dan Hadits Rasulullah saw. Di masyarakat Indonesia, wadah zina dan pembudayaan prilaku kebebasan seksual di luar nikah sebenarnya sudah sangat menghawatirkan. Hal ini dapat diketahui dengan banyaknya para remaja yang belum menikah melakukan aborsi.

Adian Husaini Ketua Program Studi Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor menulis;

Angka aborsi (pengguguran kandungan), misalnya, tampak fantastis. Tahun 1997, WHO memperkirakan, sekitar 4,2 juta bayi digugurkan di Asia Tenggara. Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan, ketika itu, Khofifah Indar Parawansa, mengutip data Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), dalam tahun 1999-2000, diperkirakan wanita yang melakukan aborsi sebanyak dua juta orang, diantaranya 750.000 remaja yang belum menikah.. Dr. Biran Affandi SpOG, Ketua Umum Perhimpunan Obsetri Ginekologi Indonesia (POGI), menunjuk angka 2,3 juta untuk aborsi di Indonesia per tahun.

Meruyaknya praktik perzinahan juga sama derasnya dengan meruyaknya peredaran narkoba di Indonesia dan berbagai bisnis kemaksiatan lainnya. Menurut Prof. Dr. Dadang Hawari, pemerintah sendiri punya kepentingan, sehingga tidak serius memberantas kejahatan jenis ini. Bisnis narkotik per hari mencapai Rp. 200 milyar, bisnis judi Rp. 500 Milyar, bisnis minuman beralkohol Rp. 4 milyar omset bisnis pelacuran sekitar 11 triliyun per tahun. Ketua Umum Gerakkan Anti Narkotika (Granat) Henry Yosodiningrat memperkirakan, perputaran uang dalam bisnis narkotika di Indonesia mencapai Rp. 24 Triliyun per bulan. Atau Rp. 800 milyar per hari. Dr. Boyke Dian Nugraha mengakui, budaya free sex ada hubungannya dengan penyebaran niali-nilai Barat yang serba permisif.. (Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat Dari Hegemoni Kristen Ke Dominasi Sekuler-Liberal, Gema Insani: Jakarta, Cet II, 2014, hlm, 25-26.