Qalbun Salim: Oleh Masykur H Mansyur.

Qalbun Saliim : Masykur H Mansyur

Kata “Saliim” memiliki akar kata yang sama dengan kata “Islam”. Kata Saliim berasal dari kata salima artinya selamat.

Sedangkan kata “Qalb” diartikan dengan hati, hal ini disandarkan pada ayat surat al-Hujurat 49 : 14

۞قَالَتِ ٱلۡأَعۡرَابُ ءَامَنَّاۖ قُل لَّمۡ تُؤۡمِنُواْ وَلَٰكِن قُولُوٓاْ أَسۡلَمۡنَا وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَٰنُ فِي قُلُوبِكُمۡۖ

14. Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah ´kami telah tunduk´, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu;

Dan juga Nabi Muhammad bersabda bahwa “taqwa itu ada disini” (sambil beliau menunjuk kearah dadanya).

Jadi qalb saliim yang dimaksudkan disini adalah hati yang selamat dari penyakit atau kerusakan apapun bentuknya. Atau dengan kata lain hati yang tidak mengenal selain Islam.

Istilah “Qalb Salim” dalam al-Qur’an ditemukan dalam dua tempat. Keduanya terkait dengan peristiwa Nabi Ibrahim AS. Beliau merasa prihatin yang luar biasa melihat penyimpangan dan kesesatan yang dilakukan kaumnya, termasuk ayahnya sendiri yang bernama Azar. Besarnya perhatian kepada orang tua adalah sesuatu yang alami dan merupakan fitrah bagi manusia, karena setiap manusia dalam fitrahnya memiliki rasa cinta dan perhatian yang mendalam pada keluarga dan kerabat. Semestinya setiap anak tidak akan pernah rela melihat kezaliman, kesesatan dan penyimpangan yang dilakukan oleh orang tuanya, terlebih Nabi Allah Ibrahim AS.

Nabi Ibrahim berdakwah dengan sekuat tenaga menyeru kaumnya termasuk orang tuanya sendiri untuk beragama tauhid, tapi yang terjadi malah sebaliknya, mereka justru menantangnya dengan mengatakan bahwa sejak dulu dari nenek moyang kami sudah yakin dengan persembahan kami yaitu menyembah patung.

Kenyataan inilah yang membuat Nabi Ibrahim bermunajat berdoa kepada Tuhannya sebagaimana dalam surat al-Syu’ara’ 96: 83 – 89.

رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ٨٣ وَٱجۡعَل لِّي لِسَانَ صِدۡقٖ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ٨٤ وَٱجۡعَلۡنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ ٨٥ وَٱغۡفِرۡ لِأَبِيٓ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلضَّآلِّينَ ٨٦ وَلَا تُخۡزِنِي يَوۡمَ يُبۡعَثُونَ ٨٧ يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ٨٩

(Ibrahim berdoa): "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh. Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan. Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat. Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna.Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.

Dan ternyata do’a Nabi Ibrahim untuk bapaknya ditolak oleh Allah sebab bapaknya merupakan musuh Allah. Perhatikan surat al- Taubah

وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ ١١٤

114. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.

Dalam surah al-Shaaffaat 37 : 83-84

۞وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِۦ لَإِبۡرَٰهِيمَ ٨٣ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ٨٤

83. Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh)

84. (lngatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci

Hati yang selamat seperti yang kita fahami berdasarkan ayat-ayat tersebut adalah hati yang bersih dari kemusyrikan dan kekafiran. Hati yang penuh dengan kemusyrikan dan kekafiran betapapun pemiliknya berbuat baik dan humanis tetap saja tidak akan pernah menjadi hati yang selamat.

Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihaayah menguraikan, Abu Talib mengasuh Rasul SAW dan melindungi beliau selama 48 tahun. Namun bila tidak beriman, ia tidak mendapatkan keselamatan dari Tuhan. Bahkan ketika Abubakar ra. Membawa ayahnya, Abu Quhafah, yang rambutnya sudah memutih kepada Rasul SAW, sesudah (fath Makkah) lalu ia memeluk Islam dan Mengucapkan dua kalimat syahadat, Abubakar menangis. Abubakar menjawab bahwa ia akan sangat senang seandainya Abu Talib masuk Islam karena ia mengetahui betapa Rasul sangat menginginkan hal tersebut. Rasul tidak lupa akan sikap dan perlindungan Abu Talib kepada beliau, Pergilah, wahai keponakanku, sampaikanlah apa yang harus kausampaikan. Demi Tuhan, aku tidak akan menyerahkanmu pada apapun dan siapun selamanya.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s