Paradigma Masyarakat terhadap Guru (Dahulu dan Sekarang)

By Iwan Hermawan

Usia pendidikan sama tuanya dengan usia kebudayaan manusia. Pendidikan telah mulai dilaksanakan semenjak manusia hadir di muka bumi. Pada mulanya, tujuan pendidikan hanyalah sekadar mempersiapkan generasi muda untuk bisa survive di tengah masyarakat luas. Karena itu, bentuknya adalah berupa mewariskan wawasan, pengetahuan, dan ketrampilan yang diperlukan untuk survival kepada generasi berikutnya. Pada penghujung abad ke 21 M, pemerintah mengeluarkan undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional, sebagai pengganti undang-undang nomor 2 tahun 1989.

Salah satu isi yang terpenting dalam undang-undang itu tersebut adalah pelibatan masyarakat dalam pengembangan sektor pendidikan, sebagaimana ditegaskan pada pasal 9 bahwa masyarakat berhak untuk berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan. Pasal ini merupakan kelanjutan dari pasal 4 ayat 1 bahwa pendidikan di Indonesia diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan.

Saat ini banyak sekali kasus guru yang diprotes bahkan dituntut, gara-gara dianggap tidak profesional dalam mengerjakan tugasnya. Seringkali orangtua mencemooh guru didepan anak ketika dianggap tidak sesuai dengan harapannya. Yang lebih parah lagi, mereka mendoktrin anaknya untuk melawan guru jika ada perlakuan atau tindakan yang dianggap melanggar haknya. Saat ini, banyak sekali sinetron yang menampilkan sosok guru sebagai orang bego, kuper dan miskin dan menjadi objek ejekan atau korban bullying dari murid-muridnya.

Ironisnya berita itu sering melecehkan posisi guru, baik yang bersifat kepentingan umum maupun sifat-sifat yang sangat pribadi. Pihak guru sendiri nyaris tidak bisa membela diri. Masyarakat atau orang tua murid selalu mencemooh dan menuding guru tidak kompeten, tidak berkualitas dan sebagainya. Bila putra/putrinya tiak bisa menyelesaikan persoalan yng dihadapi atau memiliki kemampuan yang tidak sesuai. Dari kalangan bisnis / industrialis memprotes para guru karena kualitas para lulusan dianggap kurang memuaskan bagi kepentingan perusahaan. Dimana murid-murid khususnya di sekolah menengah di kota-kota umumnya cenderung menghormati gurunya karena hanya ingin nilai yang baik atau naik kelas atau lulus dengan peringkat tanpa kerja keras. Tentunya tuduhan dari kalangan tersebut akan merongrong wibawa guru, bahkan cepat/lambat, pelan tapi pasti menurunkan martabat guru. Sikap perilaku masyarakat tersebut memang beralasan, karena sebagian kecil dari guru yang melanggar atau menyimpang dari kode etik guru.

Anehnya sekecil apapun kesalahannya tetap mengundang reaksi yang begitu hebat di masyarakat. Menunjukkan bahwa guru memang seyogyanya menjadi panutan bagi masyarakat sekitarnya. Lebih dari sebagai panutan, bahwa guru sampai saat ini masih dianggap eksis, sebab sampai kapanpun posisi/peran guru tidak bisa diganti dengan mesin canggih. Karena tugas guru menyangkut pembinaan sifat mental manusia yang menyangkut aspek-aspek yang bersifat manusiawi unik dalam arti berbeda dengan yang lain. Hanya saja sampai dimana pengakuan masyarakat terhadap profesi guru, profesi hakim dan dokter dianggap lebih tinggi dibandingkan dengan profesi guru. Seandainya yang dijadikan ukuran rendahnya pengakuan profesioanal tersebut adalah keahlian dan tingkat pendidikan, guru pun ada setingkat/sederajat dengan profesi lain, bahkan ada yang lebih. Kita akui bahwa profesi guru mudah tercemar dengan orang yang memaksakan diri menjadi guru walaupun sebenarnya yang bersangkutan tidak dipersiapkan. Masyarakat berpandangan bahwa siapa saja dapat menjadi guru asalkan berpengetahuan.

Lain lagi dengan masyarakat di pedesaan, guru adalah sosok sentral bagi masyarakat. Jika ada orangtua bingung dengan anaknya, ia akan pergi ke rumah seorang guru. Kalau partisipasi warga perlu digerakkan untuk suatu proyek pembangunan di desa, gurulah yang pandai-pandai membantunya. Warga masyarakat banyak membutuhkan pertolongan guru untuk penyuluhan, pendampingan dan pengembangan lingkungannya. Tak heran bahwa di masa lalu guru masuk dalam kelas priayi. Guru dianggap seorang cendikiawan bagi lingkungan desanya. Bukan hanya di desa, kita sering mendengar orang-orang besar, orang pinter, pengusaha atau pejabat yang mengagungkan sosok guru. Banyak dari mereka mengakui menjadi “orang” karena guru. Dalam awal pembangunan negara kita pun, keberhasilan pada pengembangan kualitas sumber daya manusia, guru memainkan peran penting. Sering tidak terpikirkan bahwa untuk menghasilkan orang yang berkualitas, gurulah yang menjadi awal perjalanan sejarah orang tersebut.

Entah apa yang terjadi, yang menyebabkan begitu rendah dan negatifnya paradigma masyarakat modern terhadap profesi guru?

Catatan:

Guru yang dianggap memilki kompetensi berharga di era yang sangat kompetitif ini bukan guru yang hanya menguasai satu spesialisasi disiplin ilmu, melainkan generalis yang mampu menangani masalah dengan bantuan beberapa disiplin ilmu yang harus dikuasainya. Dengan kata lain, di zaman yang mengutamakan kualitas ini, keunggulan hanya bisa diraih dan dinikmati oleh guru yang bertipe pemenang, bukan oleh guru pengeluh dan pemalas. Siapa lagi yang harus memperbaiki citra dan profesi yang terus terpuruk kalau bukan dari guru itu sendiri.

One comment on “Paradigma Masyarakat terhadap Guru (Dahulu dan Sekarang)

  1. manjadi guru ujiannya berat. selain memiliki rasa ikhlas yang tinggi juga manjadi panutan yg tak boleh salah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s