WAKTU

Khutbah Jum’at

Oleh Masykur H Mansyur

الْحَمْدُ للهِ الَّذِى خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلاً .اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّالله وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ .وَاَشْهَدُاَنَّ سَيِّدِنَامُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِناَمُحَمَّدٍوَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ.اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَالله,اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَالله فَقَدْفَازَالْمُتَّقُوْنَ.قَالَ اللهُ تَعَالَى يَااَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْااتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَمَاالْحَيَوةَ الدُّنْيَاإِلاَّلَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُاْلأَخِرَةِ خَيْرٌلِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ أَفَلاَتَعْقِلُوْنَ

Hadirin yang berbahagia.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT, karena telah memberikan karunia dan nikmat umur yang panjang, kesehatan yang baik, dan kesempatan yang lapang, sehingga kita semua bisa mendirikan shalat Jumat berjamaah. Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat dan umatnya ilaa yaumil qiyamah.

Hadirin yang berbahagia.

Prof. Dr. Komarudin Hidayat mantan Rektor UIN Jakarta, dalam sebuah seminar bertanya pada audien. Mengapa para pemain bola ketika bermain tidak menggunakan handphone untuk menghubungi teman mainnya, atau dengan cara SMS untuk meminta operan bola. Mereka justru begitu semangat bekerja sama, berlari mengejar bola, membawa, mengoper dan menerima bola, lalu mengarahkan dan menggiringnya kejala lawan. Sang Penjaga gawang meski bola jauh dari area pertahanannya, tetap fokus memperhatikan ke arah mana bola dibawa oleh para pemain. Semua ini mereka lakukan hanya semata untuk meraih prestasi terbaik dalam profesi mereka.

Mendengar pertanyaan seperti ini, peserta seminar terdiam, tidak bisa menjawab. Lalu Komaruddin menjawab sendiri pertanyaannya. Bahwa semua itu terjadi disebabkan “waktu terbatas”. Sebab jika permainan bola itu waktunya lama, misalnya sampai satu hari tanpa henti, mungkin ada pemain yang santai, bermain-main SMS atau melakukan hal lainnya. Tetapi dengan terbatasnya waktu, maka membuat mereka berlomba-lomba membuat prestasi, apalagi jika permainan sudah memasuki injury time, permainan tambah seru. Kedua klub meningkatkan pola permainannya baik menyerang maupun bertahan, karena tidak ingin kehilangan waktu meski satu detik. Sebab tidak jarang terjadi gol justru disaat-saat menjelang akhir pertandingan(injury time).

Hadirin yang berbahagia.

Filosofi permainan bola seperti yang digambarkan di atas, tidak jauh berbeda dengan drama kehidupan manusia. Jika manusia menyadari bahwa hidup ini begitu singkat dan terbatas, maka tidak ada manusia yang mencoba menyia-nyiakan waktu, manusia pasti akan berlomba-lomba beramal sholeh, agar memperoleh prestasi diakhir hidupnya nanti. Akan tetapi pada kenyataannya, masih banyak manusia yang tidak menyadari hal ini, sehingga kehidupan mereka tampak santai, tidak berbuat banyak untuk kemaslahatan dan banyak waktu yang terbuang hanya untuk pekerjaan yang tidak bermanfaat. Ingatlah Ulama Besar sekaligus Guru Sufi Imam Hasan Al Basri pernah mengatakan : “Dunia ini hanyalah TIGA hari, yaitu Pertama, HARI KEMARIN yang sudah kita lalui, dan kita tidak bisa lagi untuk mengubahnya. Kedua, HARI ESOK, yang kita tidak akan pernah tahu apakah kita masih memiliki kesempatan di dalamnya. Dan ketiga, HARI INI, inilah kesempatan untuk kita melakukan amal shalih. Maka, beramal-lah kalian sebanyak-banyaknya” (Imam Hasan Al Bashri). Demikian pula Allah berfirman :

وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Allah bersumpah Demi waktu, sesungguhnya, manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran(Al-Ashr: 1-3)

Ayat ini secara tegas menjelaskan bahwa bagi manusia yang tidak menghargai waktu untuk hal-hal yang bermanfaat niscaya manusia itu akan rugi.

Ayat ini merupakan wahyu kesembilan yang diterima oleh nabi Muhammad SAW setelah turunnya surat an nasrh. Dan jika kita melihat urutan penulisannya, surat ini terletak pada urutan ke-103, tepatnya setelah surat al-takasur dan sebelum surat al-humazah. Lalu apa kaitan antara surat ini dengan surat sebelumnya? Dalam surat at-takasur, Allah SWT memperingatkan manusia, agar jangan sampai menjadikan seluruh aktifitas dan waktunya hanya untuk berlomba menumpuk-numpuk harta, sehingga lalai akan tujuan utama dari kehidupan ini, yaitu untuk menghambahkan diri kepadanya. Sedangkan pada surat ini (al-Asahr) Allah memperingatkan tentang pentingnya waktu dan bagaimana seharusnya kita isi waktu tersebut supaya lebih bermanfaat dan mendapat ridho Allah.

Ingatlah bahwa kita hidup di dunia ini adalah melalui waktu. Setelah itu kita pun akan pergi. Dan apabila kita telah pergi, artinya mati, habislah waktu yang kita pakai dan yang telah lalu tidaklah dapat diulang lagi, dan waktu itu akan terus dipakai manusia yang ditinggalkan, silih berganti, ada yang datang dan ada yang pergi. Oleh karena itu orang yang tidak bisa memanfaatkan waktu secara maksimal, maka orang itu akan merugi, kerugian itu mungkin tidak akan kita rasakan pada waktu sekarang, tetapi pasti akan kita rasakan pada waktu tua nanti. Kerena waktu itu tidak akan pernah kembali.

Hadirin yang berbahagia.

Dalam sebuah Makolah dikatakan :

Waktu itu laksana pedang, jika tidak bisa menggunakannya, maka akan memotongmu sendiri.

Sayyidina Ali r.a. pernah berkata:

Rezeki yang tidak diperoleh hari ini, masih dapat diharapkan lebih banyak diperoleh hari esok, tetapi waktu yang berlalu hari ini, tidak mungkin dapat diharapkan kembali esok hari.

Dalam suatu riwayat disebutkan:

“Dua nikmat yang sering dilupakan (disia-siakan) oleh manusia, yakni; kesehatan dan waktu.”

Di dalam riwayat lain Nabi bersabda:

“Bagi yang berakal, selama akalnya belum lagi terkalahkan (gila)berkewajiban mengatur waktu-waktunya. Ada waktu yang digunakan untuk bermunajat (berdialog dengan Tuhannya, ada pula untuk berfikir menyangkut penciptaan langit dan bumi (belajar), ada pula untuk melakukan evaluasi (intropeksi) terhadap dirinya, dan ada pula yang di khususkan untuk diri dan keluarganya guna memenuhi kebutuhan makan dan minumnya.”

Kesimpulannya bahwa jika kita pandai memanfaatkan dan membagi waktu, pasti akan berhasil, sebaliknya jika tidak bisa, pasti akan merugi, dan orang-orang yang tidak akan merugi berdasar surat al ashr tersebut adalah : Orang yang beriman, Orang yang beramal shaleh, Orang yang saling berwasiat (menasihat) tentang kebenaran; dan Orang yang saling berwasiat (menasihat) tentang kesabaran/ketabahan.

Semoga dengan waktu yang kita miliki, kita selalu berlomba-lomba untuk berbuat amal sholeh, agar kita termasuk kelompok orang-orang yang berprestasi di akhirat kelak, dan akan mendapatkan penghargaan/hadiah berupa JANNATUN NAIIM. Amin.

بارك الله لى ولكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم وتقيل منى ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم

Khutbah ke dua

اَلْحَمْدُلِلّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. اَشْهَدُاَنْ لاَاِلهَ اِلاَّللهُ وَحْدَه لاَشَرِيْكَ لَهُ. اِرْغَامًالِمَنْ جَحَدَبِهِ وَكَفَرَ. وَاَشْهَدُاَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُاْلاِنْسِ وَالْبَشَرِ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ .اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَ وَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَفِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْه وَسَلِّمُوْاتَسْلِيْمًا. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَاصَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ اَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. في ِالْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌمَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيم. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَااَتِنَافِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَالله اِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ فَاذْكُرُوااللهَ الْعَظِيْمِ يذكركم وَاشْكُرُوهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُاللهِ اَكْبَر.

Iklan

Sejarah dan Perkembangan Islam Nusantara

Oleh Masykur H Mansyur

Disampaikan pada Acara Sanlat Unsika 10-12 Juni 2017 di Masjid al-Khoer Unsika.

  1. Latar Belakang

Islam Nusantara yang menjadi tema Muktamar NU ke 33 di Jombang pada tanggal 1-5 Agustus 2015 menuai debat publik yang cukup ramai. Gaung tersebut kembali muncul pada 31 Januari 2016, yaitu pada  Hari lahir Ke-90 Nahdlatul Ulama. Peringatan Harlah NU tersebut mengusung tema ‘Islam Nusantara Menjaga Aset Bangsa’. Dimana melalui tema tersebut tersirat bahwa NU berkomitmen untuk senantiasa menjaga perdamaian dan keutuhan bangsa dan negara Indonesia. Komitmen ini terus digelorakan, karena NU melihat banyak gerakan dan paham yang cenderung mencerai-berai keutuhan bangsa yang sejak dahulu hingga kini terus dibangun oleh para ulama, khususnya ulama pesantren.

Yang menarik dikaji dalam  membahas Islam Nusantara adalah platform untuk menegaskan kembali bahwa Islam di negeri ini mengadoptasi nilai-nilai lokal yang menjadi ciri khasnya. Warisn-warisan ulama, terutama Wali Songo yang telah masuk ke Nusantara pada abad XV, menjadi bagian penting dari transformasi keilmuan Islam Nusantra.

Islam Nusantara ini merupakan salah satu jalan untuk memadukan ke Indonesiaan dan ke Islaman di negeri tercinta yang berlandaskan UUD 1945 dan berfalsafahkan Pancasila. Secara kasat mata kini kita bisa memperhatikan ada orang yang memperjuangkan pemberlakuan syari’at Islam, tetapi belum jelas konsep syari’at dimaksud.

  1. Definisi Islam Nusantara

Islam Nusantara adalah Islam yang ada di Indonesia dari dulu hingga sekarang yang diperkenalkan oleh Walisongo. Namun belakangan ini makin ramai diskusi di media sosial dan forum-forum  tentang term “Islam Nusantara”. Agus Sunyoto, Wakil Ketua PP Lesbumi NU, menjelaskan  istilah ini.

“Definisi Islam Nusantara, menurut saya, adalah Islam yang berkembang di Negara Kesatuan Republik Indonesia atau Nusantara yang memiliki ciri khas tersendiri, yang kelihatan berbeda sama sekali dengan Islam yang mainstream dilakukan di Timur Tengah. Tetapi ada juga sambungan-sambungan dan kaitan-kaitan dari pengaruh Timur-Tengah”, kata Agus Sunyoto dalam wawancara di Majalah AULA Mei 2015.[1]

       Azyumardi Azra mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Islam Nusantara adalah  Islam distingtif sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi dan vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya dan agama di Indonesia. Ortodoksi Islam Nusantara (kalam Asy’ari, fikih mazhab Syafi’i, dan tasawuf Ghazali) menumbuhkan karakter wasathiyah yang moderat dan toleran. Islam Nusantara yang kaya dengan warisan Islam (Islamic legacy) menjadi harapan renaisans peradaban Islam global.[2].

  1. Afifuddin Muhajir menegaskan bahwa manhaj Islam Nusntara yang dibangun dan diterapkan oleh Wali Songo serta diikuti oleh ulama Ahlussunah di negeri ini adalah “paham dan praktik ke-Islaman di bumi Nusntara sebagai hasil dialektika antara teks syari’at dengan realitas budaya setempat”[3]
  2. Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan

Islam Nusantara adalah tema muktamar NU ke 33 di Jombang, sementara Islam Berkemajuan adalah tema Muktamar Muhammadiyah yang ke 47 di Makasar  pada 3-8 Agustus 2015.

Gagasan Islam berkemajuan yang ditawarkan oleh Muhammadiyah ini, juga pernah diungkapkan oleh Bung Karno dengan istilah “Islam is progress” Islam itu kemajuan. Bagi Bung Karno, watak progresif Islam mesti ditampilkan dengan menolak sikap taklid dan mengagungkan masa lalu dengan mengidolakan zaman khalifah, yang pada akhirnya menumpulkan rasionalitas. Kalaupun ia menyerukan kembali ke Qur’an dan Hadits, itu harus diserta dengan mengendarai kendarannya pengetahuan umum[4].

Disamping itu munculnya tema Islam Berkemajuan ini adalah diilhami oleh Pernyataan KH.Ahmad Dahlan “Dadiyo kyai sing kemajuan, lan ojo kesel-kesel anggonmu nyambut gawe kanggo Muhammadiyah” (Jadilah kyai yang berkemajuan, dan jangan lelah bekerja untuk Muhammadiyah)[5].

Tema Islam Berkemajuan merupakan bentuk penegasan ormas Islam  modernis  ini dalam menyatakan afiliasinya kepada salafisme ala Muhammad Abduh yang berorientasi pada pembaruan Islam rasionalistik, dan bukan pada salafisme ala Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1783) yang berorientasi pada pemurnian Islam yang literal, scriptural dan harfiah. Walaupun keduanya tetap kembali kepada al-Qur’an Sunnah sebagai dasar pijakannya, namun tetap saja ada jurang pembeda diantara keduanya.

Gagasan salafisme kaum Wahabi adalah pemurnian ajaran Islam dari apa yang mereka anggap sabagai bid’ah, menuju implmentasi Islam berdasar pemahaman harfiah terhadap qur’an dan hadits, tanpa melihat perubahan sosio-kultural yang terjadi di kalangan muslim.

Kembali ke Qur’an Hadits bagi Abduh arahnya justru pada reformasi Islam agar kaum muslim tidak gagap  berhadapan dengan modernitas.

Pertanyaannya adalah bagimana kita memahami Islam Nusantara ala NU vis a vis Islam Berkemajuan ala Muhammadiyah.

Najib Burhani, intelektual muda Muhammadiyah, melihatnya sebagai bentuk respon yang berbeda terhadap gejala yang sama, yakni globalisasi [6].

Islam nusantara yang ia gambarkan sebagai, langgamnya nusantara tapi isinya Islam, bajunya Indonesia tapi badannya Islam, adalah manifestasi menghadapi globalissi dengan indegenisasi menekankan keunikan budaya. Berbeda dengan Muhammadiyah yang dimata Najib justru menekankan universalisme dan kosmopolitanisme dalam menanggapi globalisasi..

Titik temu kontektualisasi Islam versi Muhammadiyah dan NU setidaknya tercermin dari pemikiran Prof. Amin Abdullah dan KH.Sahl Mahfudh tentang hukum Islam. Bagi Amin Abdullah transformasi bidng sosial, politik, ekonomi, budaya dan ilmu pengetahuan mencerminkan perubahan radikal dari zaman klasik-skolastik ke era modern menuntut digalakknannya jihad kontemporer, bahkan jihad yang segar.

Bagi KH Sahal Mahfud dengan ide fiqh sosial menempatkan pemahaman fiqh harus mampu menampilkan dinamisme dan fleksibilitasnya berhadapan dengan perubahan sosial yang melaju dengan kencang. Karena itu menurut beliau fiqh  merupakan hasil ijtihad yang tak bersifat kaku dan sakral, melainkan lentur dan kontekstual.

Itulah dua konsepsi yang saling bersinergi. Islam nusantara yang dikembangkan NU siap untuk mengapersiasi spirit pembaruan dari Islam berkemajuan, dan Islam Berkemajuan yang dipromosikan oleh Muhammadiyah bersedia menghargai kemaslahatan berbasis tradisi setempat yang mencirikan ide Islam Nusantara.

  1. Wajah Islam Nusantara

Karakter Islam Indonesia yang sedemikian memikat dunia itu tentunya tidak terbentuk tiba-tiba, melainkan diawali dengan  lahirnya tradisi, budaya, dan kesusastraan Islam sufistis sejak awal abad ke-16. Michael Laffan, dalam bukunya The Makings of Indonesian Islam: Orientalism and the Narration of a Sufi Past (2011) menjelaskan bahwa wajah Islam Indonesia tidak mulai dibentuk pada masa kolonial seperti banyak diasumsikan oleh para sarjana. Ia adalah kelanjutan dan buah dari pertemuan beragam  tradisi, budaya, intelektualitas, dan agama yang telah saling berinteraksi sejak awal masuknya Islam ke wilayah ini. Tradisi Arab, Cina, India, dan Eropa, semuanya berjalin berkelindan membentuk karakter wasathiyah.

  1. Mengenalkan Islam Nusantara ke Dunia Internasional..

Saat ini, dunia Islam di Timur Tengah tengah dibakar oleh api kekerasan yang berujung pada pertumpahan darah. Ironisnya, agama Islam acapkali digunakan sebagai justifikasi bagi pengrusakan-pengrusakan tersebut. Maka cara berislam penuh damai sebagaimana di Nusantara ini kembali terafirmasi sebagai hasil tafsir yang paling memadai untuk masa kini.

Yang menjadi pekerjaan rumah bersama adalah bagaimana nilai-nilai keislaman yang telah dan sedang kita hayati ini, terus dipertahankan. Bahkan, kita harus berupaya ‘mengekspor’ Islam Nusantara ke seantero dunia, terutama ke bangsa-bangsa yang diamuk kecamuk perang tak berkesudahan, yaitu mereka yang hanya bisa melakukan kerusakan (fasād) tapi tidak kunjung melakukan perbaikan (ṣalā). Tugas kita adalah mengenalkan Allah yang tidak hanya menjaga perut hamba-Nya dari kelaparan, tapi juga menenteramkan jiwa dari segala kekhawatiran,

Dalam sebuah perbincangan ringan dengan Komaruddin Hidayat (saat masih menjabat Rektor UIN), Susilo Bambang Yudhoyono (saat telah lengser sebagai Presiden RI ke-6) bersaksi bahwa masyarakat Muslim internasional sangat banyak berharap agar Indonesia menjadi prototype peradaban Islam di era kontemporer, mengingat karakter masyarakatnya yang multikultural, multietnik, moderat, dan jauh lebih toleran dibanding negara-negara Muslim lain. Itu pula yang mendorong Komarudin Hidayat menggebu-gebu dan bermimpi Indonesia memiliki ikon pendidikan tinggi Islam yang disegani dunia.

Wallahu a’lam bi al-shawaab.

[1] www.nu.or.id/post/read/60458/maksud-istilah-islam-nusantara, diunduh 6Juni 2017

[2] Definisa terebut bisa dibaca pada “Web Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta.

[3] KH. Afifuddin Muhajir, dalam Islam Nusantara dari Ushul Fiqh Hingga Paham Kebangsaan, Bandung, Mizan, 2016, hlm. 17.

[4] Akhmad Sahal “Prolog Kenapa Islam Nusantara? dalam Islam Nusantara dari Ushul Fiqh Hingga Paham Kebangsaan, Bandung, Mizan, 2016, hlm. 27.

[5] Noor Chozin Agham, Filsafat Pendidikan Muhammadiyah, Jakarta, Uhamka Press 2012, hlm. 178.

[6] Ahmad Najib Burhani, Islam Nusantara VS Islam Berkemajuan, Koran Sindo, 3 Juli 2015.